Senin, 08 Maret 2010

GERAKAN ANTI MAULID (GAM)


Oleh Prof Dr Ali Mustafa Yaqub
Seorang kawan mengeluh kepada kami. Katanya, sekarang ini banyak anggota GAM di Jakarta. "Eh, yang benar saja. Mana ada anggota Gerakan Aceh Merdeka di Jakarta," begitu kami menyanggah. "Ini bukan GAM yang berarti Gerakan Aceh Merdeka, tetapi GAM yang berarti Gerakan Anti Maulid," kata kawan tadi menjelaskan.


"Apa argumen mereka?" Tanya kami mengejar. "Mereka bilang peringatan maulid itu tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi, ini termasuk bid`ah," jelasnya. "Wah, kalau yang namanya bid`ah itu adalah ibadah yang tidak pernah dikerjakan Nabi SAW, akan banyak ibadah yang menjadi bid`ah," jelas kami.


"Banyak ibadah menjadi bid`ah? Apa maksud Ustaz?" Begitu kawan tadi bertanya penasaran. "Ya, kalau ibadah yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah SAW itu disebut bid`ah, umrah Ramadhan adalah bid`ah. Karena, Rasulullah selama hidup tidak pernah menjalankan umrah pada bulan Ramadhan. Kita mengeluarkan zakat fitri dengan beras juga bid`ah, karena Rasulullah tidak pernah mengeluarkan zakat fitri dengan beras." Begitu kami menjelaskan.


"Lalu, yang disebut bid`ah itu apa Ustaz?" Tanyanya lagi. "Dalam bidang ibadah, yang disebut bid`ah adalah ibadah yang tidak ada dalilnya dalam agama (dalil syar`i). Yang dimaksud dalil syar`i adalah Alquran, hadis, ijma`, qiyas, dan lain-lain," tambah kami. "Contohnya apa, Ustaz?" Tanya dia lagi. "Contohnya, shalat Shubuh 10 rakaat. Tidak ada dalilnya dalam agama. Yang ada dalil olah raga. Pagi hari, semakin banyak bergerak semakin baik," jelas kami.


"Lalu, apakah peringatan maulid Nabi SAW itu ada dalilnya dalam agama?" Tanyanya lagi. "Untuk menghukumi sesuatu, kita tidak boleh melihat namanya, tetapi kita lihat substansi perbuatan atau materinya. Apabila kita menghukumi sesuatu dari namanya, hotdog yang bahannya terigu dan daging ayam yang disembelih sesuai syariah Islam, hukumnya haram karena makanan itu bernama hotdog alias anjing panas.''


''Maka, seperti kata Syekh Dr Ahmad al-Syurbasyi dalam kitabnya Yasalunaka fi al-Din wa al-Hayah, untuk menghukumi maulid, kita harus melihat perbuatan yang dilakukan dalam maulid itu. Apabila maulid itu diisi dengan maksiat dan kemungkaran, hukumnya haram. Namun, apabila diisi dengan membaca Alquran, penerangan perjuangan Rasulullah SAW, dan sebagainya, semua itu ada dalil yang menganjurkannya. Begitu pendapat Syekh Dr Ahmad al-Syurbasyi dari Mesir,'' jelas kami. "Wah, terima kasih, Ustaz. Sekarang saya sudah paham," jawabnya.

sumber : Harian Republika.


Read More/Selengkapnya...

Kamis, 04 Maret 2010

JIKA CINTA NABI

“Kemarin di sekolah pak guru nanya, siapa yang cinta nabi Muhammad saw?” putriku membuka pembicaraan malam itu, usai mengerjakan tugas agamanya.

“Terus?” tanyaku sambil memeriksa hasil pekerjaan rumahnya

“Semua tunjuk jari. Kemudian pak guru nanya lagi, apa bukti kalau kalian cinta nabi Muhammad saw?”

“Kalian jawab apa?”

“Tidak ada yang menjawab, semua diam. Termasuk aku!”

***

Pertanyaan yang sama, apakah kita mencintai nabi kita, nabi Muhammad saw? Dengan mantap kita pasti akan menjawab, ya! Tapi jika ditanya, apa bukti kalau kita mencinta nabi Muhammad saw, maka terkadang kita seperti anak kecil yang bingung dan membingungkan. Kita bingung menunjukan bukti kecintaan kita pada sang nabi karena perbuatan kita yang terkadang bertolak belakang dengan apa yang kita ucapkan.

Banyak cara dan acara yang digelar dalam rangka memperingati hari kelahiran nabi Muhammad saw. Apakah ini sebuah bukti kecintaan kita pada sang nabi? Tentu saja! Begitulah jawaban mereka yang melakukannya. Namun benarkah ini bukti cinta kita pada sang nabi? Belum tentu di mata Allah dan sang nabi.

Rosululloh mencontohkan kita untuk bersedekah dengan harta kita, tapi bukan dengan cara mubazir, menghanyutkan ke laut misalnya. Untuk apa dan untuk siapa? Bukan pula dengan cara untuk diperebutkan hingga tak jarang menimbulkan kericuhan.

Rosululloh menyuruh kita untuk mencari ilmu, meskipun umpamanya sampai ke negeri China. Mengadakan dan mengikuti pengajian adalah salah satu cara untuk menambah pengetahuan agama kita. Tapi bukan kemudian mengotori masjid dengan berbagai sampah makanan dan minuman. Bukan pula dengan melalaikan sholat shubuh lantaran pengajian diadakan hingga larut malam.

Rosullloh tak pernah memberikan contoh atau perintah khusus untuk merayakan hari kelahiran beliau. Kalaupun kemudian ada yang mengadakan berbagai acara dalam rangka memperingati hari kelahiran beliau, meski sebagian mengatakan itu bid’ah namun sebagian lagi menganggap acara-acara yang mereka gelar hanya sekedar memanfaatkan momen ini untuk mengarahkan semangat kaum muslim ke jalur yang benar dan lebih bermanfaat. Semua tentu kembali bagaimana niat dan tata caranya.

Ada satu hal yang terkadang kita lupakan, padahal itulah inti sesungguhnya dari momen peringatan hari kelahiran nabi. Peringatan hari kelahiran nabi semestinya menjadikan kita lebih dekat dengan sosok mulia beliau. Bukan sekedar menyegarkan ingatan kita akan sejarah hidup beliau, tapi membangkitkan semangat kita dalam meneladani segala akhlak dan perbuatan beliau yang sangat mulia.

Jika benar kita cinta nabi, semestinya kita tahu apa dan bagaimana sosok sang nabi, akhlaknya dan segala kemuliaannya. Jika benar kita cinta nabi, semestinya akhlak dan perbuatan kita didasarkan pada contoh yang beliau berikan.

Jika kita cinta nabi, semestinya ibadah wajib tak pernah kita tinggalkan karena ibadah sunnahpun senantiasa kita jalankan. Ibadah bukan lagi sekedar kewajiban, tapi kebutuhan. Rosululloh yang sudah dijamin Allah masuk syurga saja sangat taat dan tekun beribadah, apalagi kita yang masih berlumur dosa seharusnya memastikan segala tingkah laku kita menjadi amalan yang bernilai ibadah.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita menjadi orang yang sangat memuliakan orang tua, menghormati tamu dan tetangga dan menjaga akhlak dalam pergaulan, bukan menganggap orang tua hanya sebagai beban, tamu atau tetangga hanya akan merepotkan sementara teman hanya sekedar tempat untuk kita meminta bantuan.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita menjadi orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, bukan membesar-besarkan permusuhan, apalagi sampai mewariskan dendam pada keturunan.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita peduli dengan kesusahan yang dialami tetangga kanan kiri kita, bukan menganggap kesulitan mereka sebagai urusan mereka, diluar urusan rumah tangga kita.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita menjadi seorang dermawan yang gemar membantu kaum fakir miskin, bukan dengan mudah memberikan label malas pada mereka tanpa kita memberikan bantuan apa-apa.

Jika kita cinta nabi, semestinya kita mengasihi anak-anak yatim, bukan membiarkan mereka dengan anggapan toh masih ada kerabat yang lebih wajib mengurus segala keperluannya, sementara kita hanya orang lain yang tak ada pertalian darah dengan mereka.

Kita memang hanyalah manusia biasa yang tak sesempurna rosululloh, namun kita bisa meneladani beliau sampai batas maksimal kemampuan kita. Mari kita jadikan momen peringatan maulid nabi ini sebagai titik awal untuk mengikuti jejak-jejak syurga sang nabi. Mari kita rubah senandung harian kita dengan shalawat. Sesungguhnya rosululloh tak memerlukan doa kita, tapi kitalah yang membutuhkan syafaat dari beliau.

Allohumma sholli ala Muhammad ya robbi sholli alaihi wasalim



Read More/Selengkapnya...

Senin, 01 Maret 2010

KELUARGA SAKINAH, MAWADDAH DAN RAHMAH


Bismillahirrahmanirrahiim..
Dengan kerendahan hati, mari kita simak pesan-pesan Al Quran tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Nasehat ini untuk semuanya. Baik untuk mereka yang telah memiliki arah. Bagi mereka yang belum punya arah. Atau bahkan yang tak punya arah sekalipun. Nasehat ini untuk semuanya. Semua yang ingin mendapat dan meraih kebaikan. Nikah itu ibadah. Nikah itu suci ... ingat itu. Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena keturunan, bisa karena kecantikan, ketampanan, dan bisa karena agama. Jangan engkau jadikan harta, kecantikan, dan keturunan sebagai alasan karena itu akan menyebabkan celaka. Jadika agama sebagai alasan. Engkau akan mendapatkan kebahagiaan. Tak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta. Namun, jika cinta engkau jadikan satu-satunya landasan, maka keluargamu akan rapuh. Mudah terombang-ambing dan hancur kemudian. Jadikanlah Allah sebagai landasan. Niscaya kau akan selamat. Tidak saja di dunia, tapi juga di akhirat. Jadikan ridho Allah sebagai tujuan. Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai. Insyaallah .......

Untuk calon suami yang sholih ...
Jangan kau menginginkan menjadi raja dalam istanamu.
Disambut isteri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan.
Jika ini kaulakukan, istanamu tidak akan lanngeng.
Lihatlah manusia teragung sepanjang sejarah, Muhammad SAW tidak marah ketika harus tidur di luar beralaskan sorban, karena sang isteri tidak mendengar kedatangan beliau.
Tetap tersenyum, meski tak tersedia makanan di hadapan, ketika lapar.
Menjahit bajunya yang robek ...........
Jangan engkau terlalu cinta pada isterimu.
Jangan engkau terlalu menuruti isterimu.
Jika itu engkau lakukan, akan celaka.
Engkau tidak akan dapat melihat hitam dan putih, tidak akan dapat melihat benar dan salah.
Lihatlah bagaimana Allah menegur Nabimu ketika mengharamkan apa
yang telah Allah halalkan hanya karena menuruti kemauan isteri.
Tegaslah terhadap isterimu!!
Dengan cintamu ajaklah ia tata kepada Allah.
Jangan biarkan ia dengan kehendaknya.
Lihatlah isteri Nuh dan Luth. Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru
mereka menjadi penentang.
Isterimu bisa menjadi musuhmu. Didiklah isterimu.
Jadikanlah ia sebagai Hajar, wanita utama yang setia terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan ia sebagai Maryam. Wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya.
Jadikan ia sebagai Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi tugas suami, Muhammad SAW menerima tugas risalah.
Isterimu adalah tanggung jawabmu...
Jangan larang mereka untuk taat kepada Allah.
Biarkan ia giat berdakwah kepada kaumnya untuk menyegerakan tegaknya kembali kalimah-Nya.
Biarkan ia menjadi wanita yang sholehah yang senantiasa mengokohkan dakwahmu dan dakwahnya.
Tegur ia tatkala ia lalai dalam melaksanakan amanahnya.
Biarkan ia menjadi Hajar, Maryam atau bahkan Khodijah.
Sungguh jangan kau belenggu dengan egomu.

Untuk calon isteri yang sholihah .........
Jika engkau menjadi isteri, jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam istanamu.
Disayang, dimanja dan dilayani oleh suamimu.
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu.
Jika itu engkau lakukan, istanamu akan menjadi neraka bagimu.
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu.
Jangan engkau paksa suamimu untuk melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya.
Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami.
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa senantiasa menjaga kehormatannya.
Siapka dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa mendampingi suami tercinta mejalankan misi dakwahnya.
Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu. Jangan kau usik suamimu dengan tangismu.
Jika itu kau salah gunakan, kecintaannya padamu yang begitu besar akan memaksanya menjadi pendurhaka.
Jangan ...........

Untuk para Bapak .....
Jika kau menjadi bapak, jadilah bapak yang bijaksana layaknya Lukamnul Hakim.
Jadilah Bapak yang tegas seperti Ibrahim.
Jadilah Bapak yang dipenuhi kasih dan sayang seperti Muhammad SAW. Ajaklah anakmu mengenal Allah. Ajaklah anak, dan istrimu untuk senantiasa taat pada Allah.
Jadikan ia sebagai Yusuf yang berbakti. Jadikan ia setaat Ismail.
Jangan jadikan ia sebagai anak yang durhaka.
Mohonlah kepada Allah...
Mintalah kepada Allah agar mereka menjadi anak yang sholih dan senantiasa menjadi pejuang Islam.

Untuk para Ibu ..........
Jika kau menjadi ibu, jadilah kau ibu yang bijak, ibu yang teduh, yang bisa memberi keteduhan pada suami dan anak-anakmu.
Bimbinglah anakmu dengan kasih sayangmu.
Jadikan mereka mujahid. Jadikan mereka tentara-tentara Allah.
Jangankan biarkan mereka larut dalam kemanjaan dan malas-malasan. Siapkan mereka menjadi anak yang shalih.
Hamba yang shalih. Yang siap menegakkan risalah Islam.

Pernikahan laksana ajal, tak peduli siap atau tidak, pada waktu yang telah ditentukan dia akan datang menjemput seseorang untuk berpindah ke alam lain.
Maka beruntunglah bagi siapa yang mempersiapkan diri.

Manusia Akhir Zaman

Untuk Suami Renungkanlah ...
Pernikahan menyingkap tabir rahasia.
Isteri yang kamu nikahi tidak semulia
Khadijah, tidak setaqwa Aisyah, pun tidak setabah Fatimah.
Justru isterimu hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi solehah ...
Pernikahan menyadarkan akan kewajiban bersama.
Isterimu menjadi tanah, kamu langit penaungnya.
Isteri ladang tanaman, kamu pemagarnya.
Isteri ibarat ternak, kamu penggembalanya.
Isteri adalah murid, kamu mursyidnya.
Isteri bagaikan anak kecil, dan kamu tempat bermanja dan berkeluh kesah ia.
Dan ketika isteri menjadi racun, kamulah penawar bisanya.
Seandainya isteri tulang yang bengkok maka berhati-hatilah meluruskannya ...
Pernikahan menginsyafkan kita perlunya keimanan dan ketaqwaan.
Untuk belajar meniti ridho Allah SWT.
Karena memiliki isteri yang tak sehebat mana, justru kamu akan tersentak dari alpa.
Kamu bukanlah Rasulullah SAW, pun bukan Sayyidina Ali Karramallahuwajhah.
Cuma suami akhir zaman yang mencoba untuk menjadi suami
soleh. Amiin .........

Untuk Isteri Renungkanlah ...
Pernikahan menyingkap tabir rahasia.
Suami yang menikahimu tidak semulia Muhammad SAW,
tidak setaqwa Ibrahim, pun tidak setabah Ayub.
Apalagi setampan Yusuf..
Justru suamimu hanyalah lelaki akhir zaman yang punya cita-cita membangun keturunan yang sholeh ...
Pernikahan menyadarkan akan kewajiban bersama..
Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya.
Suami adalah nahkoda kapal, dan kamu pengemudinya..
Saat suami seorang raja, kamu dapat merasakan anggur singgasananya.
Dan ketika suami menjadi racun, kamulah penawar bisanya.
Sungguh , tatkala suami sebagai inti jantung keluarga, maka anti-lah rusuk pelindungnya.
Seandainya suami bengis lagi lancang, maka berhati-hatilah meluruskannya ...
Pernikahan menginsyafkan kita perlunya keimanan dan ketaqwaan.
Untuk belajar meniti ridho Allah SWT.
Karena memiliki suami yang tak sehebat mana, justru kamu akan tersentak dari alpa.
Kamu bukanlah Khadijah yang sempurna dalam menjaga, pun bukan Hajar yang setia dalam sengsara.
Cuma wanita akhir zaman yang mencoba untuk menjadi istri salehah. Amiin .........

"Semoga Allah Mengumpulkan Yang Berserakan Dari Keduanya, Memberkati Mereka Berdua Dan Kiranya Allah Meningkatkan Kualitas Keturunan Mereka, Menjadikan Pembuka Pintu Rahmat, Sumber Ilmu Dan Nikmat Serta Rasa Aman Bagi Umat"
(Doa Rasulullah Saat Pernikahan Putrinya Fatimah Dengan Ali Bin Abi Thalib)

Read More/Selengkapnya...

CINTA AL-QUR'AN

AL-QUR’AN BERBICARA TENTANG AL-QUR’AN


1. Al-Qur’an Merupakan Obat dan Rahmat

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”
(QS. 17:82)


2. Al-Qur’an adalah Petunjuk dan Cahaya.

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”.
(QS. 5:16)

3. Al-Qur’an Merupakan Kabar Gembira bagi Orang-Orang Beriman, bahwa Mereka Memperoleh Pahala yang Besar.

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”.
(QS. 17:9)

4. Al-Qur’an Merupakan Hikmah yang Amat Agung.

“Demikianlah (kisah ‘Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al-Qur’an yang penuh hikmah”.
(QS. 3:58)

5. Al-Qur’an Merupakan Peringatan dan Pelajaran.

“Maka beri peringatanlah dengan Al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku”.
(QS. 50:45)


“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
(QS. 10:57)

6. Al-Qur’an adalah Ruh dan Kehidupan

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh/wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami”.

7. Al-Qur’an Merupakan Samudra Ilmu Pengetahuan dan Penjelasan

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya,melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Rabblah mereka dihimpunkan”.
(QS. 6:38)

"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”
(QS. 18:54)

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.”
(QS. 16:89)

8. Allah Telah Bersumpah dengan Al-Qur’an dan Menyifatinya dengan
Kemuliaan.

“Qaaf Demi Al-Qur’an yang sangat mulia”.
(QS. 50:1)


Selanjutnya Allah memerintahkan hambaNya untuk mempelajari Al-Qur’an, dan Dia menyifati orang yang tidak maumempelajari Al-Qur’an sebagai orang yang gelap hatinya dan buta nuraninya.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci”
(QS. 47:24)

Apa yang telah disebutkan di atas merupakan penjelasan tentang betapa agung dan mulianya keberadaan Al-Qur’an, serta besarnya keutamaan orang yang menaruh perhatian terhadapnya, baik itu dengan membaca, menghafal, mempelajari, memahami serta mengamalkan serta mengajarkannya.


Keutamaan Mempelajari Al-Qur’an dan Mengajarkannya

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman,
“Berkatalah orang-orang kafir, “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”. Katakanlah, “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu dan antara orang yang mempunyai ilmu Al-Kitab”.
(QS. 13:43)

Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda,
“Orang terbaik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan
mengajarkannya.”(HR. Al-Bukhari)


Keutamaan Membaca Al-Qur’an

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,"
(QS. 35:29)

Nabi telah bersabda,
“Bacalah oleh kalian Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi yang membacanya.”
(HR. Muslim)

Dan sabdanya yang lain,
“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, maka dia bersama para malaikat yang mulia dan baik-baik dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata serta ia mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.”
(Muttafaq ‘alaih)

Tentang pahala kebaikan yang diberikan kepada orang yang membaca Al-Qur’an, Nabi juga telah menjelaskan dengan sabdanya,
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat. Tidaklah aku mengatakan bahwa alif laam miim satu huruf, tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR.At-Tirmidzi ia mangatakan, “Hasan shahih”)

Beliau juga bersabda tentang orang yang tidak pernah membaca Al-Qur’an,
“Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak terdapat sesuatu dari Al-Qur’an, ibarat rumah kosong dan rusak.”
(HR. At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hasan Shahih”)


Demikian semoga Allah memasukkan kita semua sebagai ahli Al-Qur’an, orang suka membacanya, mendengarkan dan mentadaburinya untuk kemudian mengamalkannya, amin ya Rabbal ‘alamain.

Read More/Selengkapnya...