Kamis, 08 April 2010

TENTANG TAWASSUL / WASILAH

1. Mengapa Bertawassul?

Wasilah (=perantara) artinya sesuatu yang menjadikan kita dekat kepada Allah SWT. Adapun tawassul sendiri berarti mendekatkan diri kepada Allah atau berdo’a kepada Allah dengan mempergunakan wasilah, atau mendekatkan diri dengan bantuan perantara. Pernyataan demikan dapat dilihat dalam surat Al-Maidah ayat 35, Allah berfirman :

يَااَيُّهَااَّلذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوااللهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ اْلوَسِيْلَةَ
“Wahai orang-orang yang beriman takutlah kamu kepada Allah, dan carilah jalan (wasilah/perantara)."

Ada beberapa macam wasilah. Orang-orang yang dekat dengan Allah bisa menjadi wasilah agar manusia juga semakin dekat kepada Allah SWT. Ibadah dan amal kebajikan juga dapat dijadikan wasilah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amar ma’ruf dan nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) juga termasuk wasilah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mengenai tawassul dengan sesama manusia, tidak ada larangan dalam ayat Al-Qur’an dan Hadits mengenai tawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah para Nabi, para Rasul, sahabat-sahabat Rasulullah SAW, para tabi’in, para shuhada dan para ulama shalihin.

Karena itu, berdo’a dengan memakai wasilah orang-orang yang dekat dengan Allah di atas tidak disalahkan, artinya telah disepakati kebolehannya. Bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah, senyatanya tetap memohon kepada Allah SWT karena Allah-lah tempat meminta dan harus diyakini bahwa sesungguhnya:

لاَمَانَعَ لمِاَ اَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِى لمِاَ مَنَعْتَ
Tidak ada yang bisa mencegah terhadap apa yang Engkau (Allah) berikan, dan tidak ada yang bisa memberi sesuatu apabila Engkau (Allah) mencegahnya.

Secara psikologis tawassul sangat membantu manusia dalam berdoa. Katakanlah bertawassul sama dengan meminta orang-orang yang dekat kepada Allah SWT itu agar mereka ikut memohon kepada Allah SWT atas apa yang kita minta.

Tidak ada unsur-unsur syirik dalam bertawassul, karena pada saat bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah SWT seperti para Nabi, para Rasul dan para shalihin, pada hakekatnya kita tidak bertawassul dengan dzat mereka, tetapi bertawassul dengan amal perbuatan mereka yang shaleh.

Karenanya, tidak mungkin kita bertawassul dengan orang-orang yang ahli ma’siat, pendosa yang menjauhkan diri dari Allah, dan juga tidak bertawassul dengan pohon, batu, gunung dan lain-lain.

2. Bertawassul dengan Orang yang Sudah Mati


Kembali pada keyakinan kita, bahwa ketika seseorang mati maka yang rusak dan hancul adalah badannya atau jasadnya, sedang rohnya tetap hidup dan tidak mati. Sebab, mereka itu berada di alam barzah. Mereka telah putus segala amal perbuatan mereka untuk diri mereka sendiri. Dalam kitab Shahih Muslim juz II disebutkan;


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ: اِذَامَاتَ اْلاِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ اِلاَّ مَنْ ثَلاَثٍ اِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَاِلحٍ يَدْعُوْلَهُ.
“Apabila manusia telah mati maka terputuslah darinya amalnya, kecuali tiga; kecuali dari shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfa’at atau anak shaleh yang mendo’akan.” (HR Muslim)


Hadits semacam ini juga termaktub dalam Sunan Tirmidzi juz III, dalam Sunan Abu Dawud juz III dan dalam Sunanu Nasa’i juz VI. Hadits di atas menjelaskan bahwa apabila manusia telah meninggal dunia itu putus segala amalnya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang lain, misalnya ahli kubur mendo’akan orang yang di dunia tidak ada keterangan yang melarang.


Adanya salam yang disampaikan Rasulullah SAW setiap melewati kubur, menunjukkan bahwa ahli kubur menjawab salam yang kita ucapkan. Dalam riwayat Imam Tirmidzi dalam Sunannya, juz III, Rasulullah SAW bersabda;


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَاأَهْلَ اْلقُبُوْرِ يَغْفِرُاللهُ لَنَا وَلَكُمْ وَأَنْتُمْ سَلَفُنَا وَنَحْنُ بِاْلأَثَرِ
“Keselamatan atas engkau wahai ahli kubur, mudah-mudahan Allah mengampuni kami dan mengampuni kalian, kalian pendahulu kami dan kami mengikuti jejak kalian.” (HR Tirmidzi)


Tentu salam Rasulullah SAW dijawab oleh ahli kubur dan juga salam kita dijawab; "Mudah-mudahan keselamatan bagi engkau wahai orang yang masih hidup di dunia." Adapun do’a ahli kubur kepada kita diterima atau tidak, itu adalah urusan Allah.


Mendo’akan orang tua, kemudian orang tua di alam barzah mendo’akan kepada yang berdo’a agar selamat, hal ini tidak ada larangan dalam agama. Baik orang yang berdo’a maupun ahli kubur seluruhnya memohon kepada Allah. Perlu diingat bahwa bagi yang berdo’a di dunia, itu tidak meminta kepada ahli kubur, karena diyakini bahwa mereka tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak bisa memberikan apa-apa.


Bertawassul dengan ahli kubur artinya agar ahli kubur bersama-sama dengan pendo’a memohon kepada Allah. Seperti ketika berdiri di depan kuburan Rasulullah SAW mengucapkan salam. Di beberapa hadits, Rasulullah menjawab salam orang yang menyampaikan salam kepada beliau.


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَارَسُوْلَ اللهِ
Bisa diambil pengertian bahwa Rasulullah SAW di dalam kubur juga mendo’akan para pemberi salam atau yang bertawassul.


3. Tawassul dengan Rasulullah SAW


Sewaktu masih hidup dan setelah wafat, tawassul pada Rasulullah itu disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, misalnya, firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 64:


وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْظَلَمُوْااَنْفُسَهُمْ جَاءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوااللهَ وَاسْتَغْفَرَلَهُمُ الَّرسُوْلُ لَوْ جَدُوااللهَ تَوَّاباً رَحِيْماً
“Walaupun sesungguhnya mereka telah berbuat dhalim terhadap diri mereka, kemudian mereka datang kepadamu (Muhammad), mereka meminta ampun kepada Allah dan Rasul memintakan ampun untuk mereka, pasti mereka menjumpai Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”


Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa Allah SWT mengampuni dosa-dosa orang yang dhalim, disamping do’a mereka tetapi ada juga wasilah (do’anya) Rasulullah SAW.
Soal tawassul seperti itu, disebutkan pula dalam tafsir Ibnu Katsir juz I;


قَالَ الإِمَامُ اْلحَافِظُ السَّيْخُ عِمَادُالدِيْنِ كَثِيْر ذَكَرَ جَمَاعَةٌ مِنْهُمُ السَّيْخُ أَبُوْ مَنْصُوْرٍالصَّبَاغُ فِىكِتَاِبهِ الشَّامِلِ اْلحِكَايَةَ اَلمَشْهُوْرَةَ عَنِ اْلعَتَبِىِّ قَالَ: كُنْتُ جَالِساً عِنْدَ قَبْرِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاَء اَعْرَابِىٌّ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَارَسُوْلَ اللهِ َسمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُوْ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَلَمُوْااَ نْفُسَهُمْ جَاءُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوااللهَ وَاسْتَغْفَرَلَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوْجَدُوااللهَ تَوَّاباً رَحِيْماً. وَقَدْجِئْتُكَ مُسْتَغْفِرًالِذَنْبِى مُسْتَشْفِعاً بِكَ اِلىَ رَبِّى ثُمَّ أَنْشَدَ ثُمَ انْصَرَفَ اْلأَعْرَاِبىُّ فَغَلَبَتْنىِ عَيْنىِ فَرَأَيْتُ النَبِىُّ فِى النَّوْمِ فَقَالَ يَاعَتَبِىُّ اْلحَقِّ اْلأَعْرَاِبىُّ فَبَشِّرْهُ اَنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَلَهُ.
“Berkata Al-Imam Al-Hafidz As-Syekh Imaduddin Ibnu Katsir, menyebutkan segolongan ulama’ di antaranya As-Syekh Abu Manshur As-Shibagh dalam kitabnya As-Syaamil dari Al-Ataby; berkata: saya duduk di kuburan Nabi SAW maka datanglah seorang Badui dan ia berkata: Assalamu’alaika ya Rasulullah! Saya telah mendengar Allah berfirman; Walaupun sesungguhnya mereka telah berbuat dhalim terhadap diri mereka kemudian datang kepadamu dan mereka meminta ampun kepada Allah, dan Rasul memintakan ampun untuk mereka, mereka pasti mendapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang; dan saya telah datang kepadamu (kekuburan Rssulullah) dengan meminta ampun akan dosaku dan memohon syafa’at dengan wasilahmu (Nabi) kepada Allah, kemudian ia membaca syair memuji Rasulullah, kemudian orang Badui tadi pergi, maka saya ketiduran dan melihat Rasulullah dalam tidur saya, beliau bersabda: Wahai Ataby temuilah orang Badui tadi sampaikan kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”


Dalam riwayat di atas dipaparkan bahwa Ataby diampuni dosanya dengan tawassul kepada Nabi yang telah wafat. Riwayat di atas diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam
لاءيضاح فىمناسك الحج للا مام النووى halaman 485


Selanjutnya, diriwayatkan juga oleh Abu Muhammad Ibnu Quddamah dalam kitabnya Al-Mughni juz. III. Riwayat Al-Ataby ini banyak sekali diriwayatkan oleh para Ulama’ terkemuka.


KH A Nuril Huda
Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)
Read More/Selengkapnya...

Rabu, 07 April 2010

MASALAH TAWASSUL

TAWWASUL

Bolehkah kita bertawasul, apakah tawassul termasuk perbuatan syirik?

Perlu kami jelaskan kembali bahwa tawassul secara bahasa artinya perantara dan mendekatkan diri. Disebutkan dalam firman Allah SWT:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, " (Al-Maidah:35).

Pengertian tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat muslim selama ini bahwa tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT. Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa.

Banyak sekali cara untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan didahului bacaan alhamdulillah dan shalawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah SWT . Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan

Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul kepada Allah SWT dengan perantaraan amal sholeh, sebagaimana orang melaksanakan sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam hadits sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya; yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya; dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.

Adapun yang menjadi perbedaan di kalangan ulama adalah bagaimana hukumnya bertawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai martabat dan derajat tinggi di mata Allah SWT. Sebagaimana ketika seseorang mengatakan: “Ya Allah SWT aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad SAW atau Abu Bakar atau Umar dll”. Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.

Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), adalah tawassul pada amal perbuatannya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’. Pendapat ini berargumen dengan prilaku (atsar) sahabat Nabi SAW:

“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Umar berkata: "Ya Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami SAW dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman Nabi kita SAW, maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun.” (HR. Bukhori)

Imam Syaukani mengatakan bahwa tawassul kepada Nabi Muhammad SAW ataupun kepada yang lain (orang shaleh), baik pada masa hidupnya maupun setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para sahabat. "Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah SWT yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi hamba yang shalih, hidup atau mati tak membedakan atau membatasi kekuasaan Allah SWT, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat."

Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah SWT menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintai-Nya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut. Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah SWT bisa memberi manfaat dan madlarat kepadanya. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlarat, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlarat sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata.

Jadi kami tegaskan kembali bahwa sejatinya tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Tawassul hanyalah merupakan pintu dan perantara dalam berdoa untuk menuju Allah SWT. Maka tawassul bukanlah termasuk syirik karena orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan semua doa. Wallahu a’lam bi al-shawab.

KH. M. Cholil Nafis

sumber : 
NU Online [www.nu.or.id] Read More/Selengkapnya...

Senin, 05 April 2010

Tips sholat khusu

Untuk dapat mencapai shalat khusyu’ yang dapat memberikan pengaruh dan manfaat yang sangat banyak kepada pelakunya bukanlah shalat yang dilakukan dengan sambilan, asal-asalan, seadanya, sekedarnya atau biasa-biasa saja.

Shalat khusyu’ itu hanya dapat diperoleh jika dikerjakan dengan penuh persiapan, ketenangan, kesungguhan, kesabaran dan keyakinan. Dengan kata lain shalat itu harus "di-manage" atau dikelola dengan baik dan benar. Manajemen shaalat beraarti bagaimana kita dapat memperoleh shalat yang khusyu’ dan nikmat dengan berpegang teguh kepada bimbingan Al-Qur’an dan tuntunan sunnah Rasulullah.

Shalat khusyu’ itu mudah dengan syarat mengetahui modal dan langkah-langkahnya berikutnya mau mengamalkan dengan sungguh-sungguh.

Modal mencapai shalat khusyu antara lain:

A. Jadikan shalat sebagai kebutuhan bukan sekedar menggugurkan kewajiban.
B. Ubahlah malas belajar menjadi mau belajar, pelajari dan fahami kembali ilmu shalat.
C. Ubahlah shalat sebagai sambilan menjadi ada waktu khusus untuk shalat.
D. Ubahlah kemalasan menjadi kesungguhan untuk melaksanakan shalat dengan khusyu’.
E. Ubahlah kebiasaan bermaksiat menjadi kemauan untuk bertaubat

Tahapan mencapai shalat khusyu’

1. Khusyu' Persiapan

a. Ketika mendengar adzan, tanamkan selalu dalam hati dan pikiran bahwa kita butuh Allah dan ingin berterimakasih kepada-Nya.
b. Segera siapkan diri, hati, pikiran dan waktu untuk mengerjakan shalat
c. Mulailah mengerjakan wudhu’ dengan sempurna dan dengan penuh ketenangan serta kekhusyu’an.
d. Persiapkan diri menuju shalat dengan tenang. Gunakan pakaian yang bersih demikian pula tempat shalat harus bersih dan suci, serta hindarkan hal-hal yang dapat mengganggu ketenangan dan kekhsyu’an shalat sperti: non-aktifkan handy, padamkan telvisi, radio dll.
e. Khusus bagi laki-laki, kerjakan shalat di masjid atau mushalla.

2. Khusyu’ Gerakan

a. Mulailah berdiri tegak menghadap kiblat kemudian siapkan hati dan pikiran untuk menghadap Allah kemudiaan berniatlah di dalam hati.
b. Melakukan semua gerakan shalat dengan sempurna persis seperti yang dicontohkan Rasulullah.
c. Melakukan semua gerakan dengan tenang dan sempurna
d. Pandangan mata tertuju pada tempat sujud (tidak melirik atau menoleh)
e. Tidak ada gerakan tambahan lain seperti mengaruk dll kecuali diperlukan.

2. Khusyu’ Gerakan

a. Mulailah berdiri tegak menghadap kiblat kemudian siapkan hati dan pikiran untuk menghadap Allah kemudiaan berniatlah di dalam hati.
b. Melakukan semua gerakan shalat dengan sempurna persis seperti yang dicontohkan Rasulullah.
c. Melakukan semua gerakan dengan tenang dan sempurna
d. Pandangan mata tertuju pada tempat sujud (tidak melirik atau menoleh)
e. Tidak ada gerakan tambahan lain seperti mengaruk dll kecuali diperlukan.

3. Khusyu’ Bacaan

a. Bacalah bacaan shalat dengan benar, jelas, tartil (perlahan-lahan dan tidak terburu-buru)
b. Terdapat jeda di antara kalimat (do’a atau ayat-ayat Al-Qur’an)
c. Bacaan lirih (berbisik) dan merendahkan suara, artinya hanya terdengar oleh telinga sndiri
d. Tidak ada ucapan atau perkataan lain, selain bacaan shalat, seperti menjawab salam, bergumam, dll.

4. Khusyu’ Pikiran

a. Setiap mulut membaca bacaan shalat maka hati dan pikiran ikut membacanya.
b. Pikiran dan perhatian terpusat pada bacaan dan gerakan shalat.
c. Berusaha memahami makna bacaan
d. Tidak larut dalam pikiran selain mengingat Allah, gerakan dan bacaan shalat.

5. Khusyu’ Perasaan

a. Hayati dan resapi setiap bacaan shalat mulai dari takbir sampai salam
b. Perbanyaklah membaca tasbih pada waktu ruku’ dan sujud serta perbanyaklah doa pada waktu sujud dan sebelum shalam. Rasakan seolah-olah sedang berhadapan dan berkomuniksi dengan Allah.
c. Berusahalah mengamalkan nilai-nilai shalat (syarat, bacaan dan gerakannya) dalam kehidupan sehari-hari.

*Disarikan dari buku saku "Shalat khusyu itu mudah" karya Ustadz Ansufri Idrus Sambo Read More/Selengkapnya...

Minggu, 04 April 2010

PESONA DUNIA BANYAK MEMBINASAKAN MANUSIA

 PESONA DUNIA BANYAK  MEMBINASAKAN MANUSIA

Dikisahkan pada suatu ketika nabi Isa mengembara dibumi dengan ditemani oleh seorang Yahudi . Ia membawa dua potong roti sedang nabi Isa hanya membawa sepotong roti. Nabi Isa bertanya pada orang Yahudi itu:”Apakah engkau akan mengajakku makan bersama?”. Orang Yahudi itu menjawab:”Tentu”. Namun ketika ia mengetahui bahwa nabi Isa hanya membawa sepotong roti, ia menyesal. Ketika nabi Isa pergi untuk menunaikan shalat, orang Yahudi itu segera memakan sepotong roti yang ada padanya. Setelah nabi Isa selesai mengerjakan shalat, mereka berdua mengeluarkan makanannya. Nabi Isa bertanya:” Mana roti yang sepotong lagi?”. Orang Yahudi itu menjawab: “Aku hanya membawa sepotong roti”. Lalu nabi Isa makan satu roti dan orang Yahudi itu satu roti pula. Setelah itu mereka berdua melanjutkan perjalanannya.

Setelah lama berjalan, pada suatu sore merekapun sampai pada sebuah pohon yang rindang. Nabi Isa mengajak Yahudi itu untuk beristirahat dan bermalam dibawah pohon itu. Mereka bermalam dibawah pohon itu hingga datang pagi hari. Setelah itu mereka meninggalkan tempat itu melanjutkan perjalalanan hingga bertemu dengan seorang yang buta. Nabi Isa bertanya pada orang buta itu: “Jika aku mengobatimu hingga Allah mengembalikan penglihatanmu, apakah engkau akan bersyukur pada-Nya?”. Orang buta itu menjawab: “Tentu saja”. Lalu nabi Isa mengusap mata orang buta itu seraya berdo’a kepada Allah,seketika itu juga ia dapat melihat kembali. Kemudian nabi Isa bertanya pada orang Yahudi yang bersamanya: “Demi Allah yang membuat engkau melihat orang buta dapat melihat kembali, dimanakah roti yang sepotong lagi?”. Yahudi itu menjawab:” Demi Allah aku hanya membawa sepotong roti”. Nabi Isa hanya diam mendengar jawaban Yahudi itu.

Mereka berdua kemudian meneruskan perjalanan hingga lewat pada sekawanan rusa yang sedang merumput. Nabi Isa kemudian memanggil salah seekor rusa itu dan menyembelihnya. Mereka kemudian makan sebagian dagingnya. Setelah itu nabi Isa berkata pada rusa yang telah mati dan sudah tidak utuh itu: “Bangunlah, dengan izin dan kehendak Allah”. Rusa itupun bangun dengan keadaan utuh seperti semula. Melihat keajaiban itu, orang yahudi itu berkata:”Maha suci Allah”. Nabi Isa kemudian bertanya:” Demi Allah yang telah memperlihatkan kekuasaan-Nya padamu, siapakah yang telah memakan roti yang ketiga?”. Yahudi itu menjawab :”Demi Allah, yang ada padaku hanya sepotong roti”. Nabi Isapun diam.

Tanpa mengulang pertanyaannya,nabi Isa mengajak Yahudi itu melanjutkan perjalanannya, hingga sampai pada sebuah sungai yang lebar. Lalu Nabi Isa menuntun tangan Yahudi itu berjalan diatas air menyeberangi sungai tersebut. Sampai diseberang orang yahudi itu berkata : “Maha suci Allah”. Nabi Isa kemudian bertanya: “Demi Allah yang telah memperlihatkan kebesaran-Nya padamu, dimanakah roti yang ketiga?”. Orang Yahudi itu menjawab: “Demi Allah yang ada padaku hanya satu potong roti”.

Tanpa mengulang pertanyaannya, nabi Isapun mengajak Yahudi itu untuk melanjutkan perjalanan, hingga sampailah mereka pada suatu perkampungan yang telah hancur. Disana mereka menemukan tiga bongkah emas yang besar, lalu nabi Isa berkata:” Satu bongkah untukku, yang satu bongkah untukmu dan satu bongkah lagi untuk orang yang mengambil roti ketiga”. Yahudi itu berkata:”Akulah yang mengambil roti ketiga itu, aku telah memakannya saat engkau sedang shalat”. Nabi Isa berkata:”Jika demikian ambillah semua emas ini untukmu, dan tiba saatnya bagi kita untuk berpisah”. Kemudian Nabi Isa melanjutkan perjalananya meninggalkan Yahudi itu sibuk dengan bongkahan emas tersebut.

Sementara orang Yahudi tersebut terpaksa tinggal dikampung itu karena tidak menemukan apa apa untuk mengakut bongkahan emas tersebut. Tidak lama kemudian lewatlah tiga orang yang juga tertarik dengan emas tersebut, mereka membunuh Yahudi tersebut untuk menguasai bongkahan emas itu. Sekarang bongkahan emas itu dikuasai oleh ketiga orang tersebut. Dua dari tiga orang itu berkata kepada temannya yang satu: “Pergilah engkau mencari makanan untuk kita bertiga”. Iapun pergi mencari makanan. Sementara itu dua orang yang tinggal merencanakan untuk membunuh temannya itu jika ia kembali, kemudian emas itu dibagi antara mereka berdua.

Dalam perjalanan orang yang ditugasi mencari makanan juga membuat rencana busuk. Makanan yang dibawanya akan diberi racun agar kedua temannya itu mati, sehingga ia dapat menguasai emas itu seorang diri. Ketika ia kembali dengan membawa makanan yang telah diberi racun, ia segera dibunuh, lalu mereka berdua segera menyantap makanan itu. Tidak lama kemudian mereka berdua juga mati didekat emas itu. Ketika nabi Isa kembali lewat ditempat itu ia melihat keempat orang tersebut dalam keadaan tidak bernyawa didekat tumpukan emas itu. Ia berkata:”Demikianlah pesona dunia berbuat terhadap penghuninya, maka berhati hatilah”.

Pelajaran yang dapat diambil

Pesona kehidupan dunia dapat membuat manusia silap dan lupa diri. Sifat tamak dan rakus menyebabkan ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dunia. Berbagai bencana yang terjadi didunia ini sebagian besar diakibatkan oleh sifat rakus dan tamak dari segelintir orang. Mereka tidak segan mengorbankan nyawa dan kepentingan orang lain untuk keuntungan dirinya. Bahkan tanpa disadari kadangkala ketamakan tersebut justru mencelakakan diri mereka sendiri, seperti yang dialami oleh para koruptor, pencuri ataupun perampok, mereka harus mendekam dalam penjara akibat ulah mereka sendiri.

96- Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Al Baqarah 96)

dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (Al Fajr 20)

Sifat rakus, tamak dan cinta dunia secara berlebihan dapat membuat seseorang lupa pada kehidupan akhirat. Karena itu bersihkanlah diri dari sifat rakus dan tamak tersebut. Insya Allah selamat hidup didunia dan akhirat

(sumber: Hani Al Hajj - 1001 kisah teladan)
Read More/Selengkapnya...