Rabu, 09 Maret 2011

KEHEBATAN TAWAKAL KEPADA ALLAH

Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah subhanahu wata’ala, untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah kemudharatan, baik menyangkut urusan dunia maupun urusan akhirat.

Allah subhanahu wata’ala, berfirman, yang artinya,
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya (mencukupkan
keperluannya)." (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

Barangsiapa yang mewujudkan ketaqwaan dan tawakkal kepada Dzat yang telah menciptakannya, maka dia akan bisa menggapai seluruh kebaikan yang ada dalam dinul Islam dan juga kebaikan di dunia ini.

Dari Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Jikalau kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezki kepada kalian seperti seekor burung,
pagi-pagi ia keluar dari (sarangnya) dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Imam Ahmad & At-Tirmidzi, dan teks hadits ini dari beliau, Abu ‘Isa berkata hadits ini hasan shaheh)

Abu Hatim Ar-Raziy rahimahullah berkata,
“Hadits ini merupakan tonggaknya tawakal, sedangkan tawakal merupakan faktor terbesar dalam mencari rezki.”
Sa'id Bin Jubeir radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Tawakal itu keseluruhannya adalah iman.”

Mewujudkan tawakal bukan berarti meniadakan ikhtiar atau mengesampingkan usaha. Takdir Allah subhanahu wata’ala dan sunnatullah terhadap makhluk-Nya terkait erat dengan ikhtiar makhluk itu sendiri, sebab Allah subhanahu wata’ala yang telah memerintakan hamba-Nya untuk berikhtiar dan di saat yang sama Dia juga memerintahkan hamba-Nya untuk bertawakal.

Ikhtiar itu adalah perintah-Nya terhadap jasad lahiriyah kita, sedangkan tawakal adalah perintah-Nya terhadap hati kita sebagai manifestasi
dari keimanan kita kepada Allah subhanahu wata’ala.

Firman Allah subhanahu wata’ala, yang artinya,
“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu sekalian, maka Allah dan Rasul-Nya
serta orang-orang mu'min akan melihat perkerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan.”(QS. At-Taubah:105)

Firman Allah subhanahu wata’ala, yang artinya,
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Al-Imran: 159)

Sahl rahimahullah menuturkan,
“Barang siapa yang cacat dalam masalah ikhtiar berarti dia mengalami cacat dalam masalah As-Sunnah, dan barangsiapa yang cacat dalam masalah tawakal berarti dia mengalami cacat dalam masalah keimanan. Tawakal adalah prinsip hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ikhtiar adalah sunnah beliau. Barangsiapa yang memiliki
prinsip hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka janganlah dia meninggalkan sunnahnya.”

Ada lagi yang menuturkan, “Tidak melakukan ikhtiar berarti dianggap
cacat dalam hukum. Sedangkan mengandalkan ikhtiar dan usaha semata berarti cacat dalam tauhid.”

Amalan yang dilakukan oleh seorang hamba Allah subhanahu wata’ala dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu:

1. Amalan dalam bentuk ketaatan yang diperintah Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai sebab keselamatan seorang hamba dari neraka dan masuk ke surga. Hal ini harus dia kerjakan berbarengan dengan sikap tawakalnya kepada Allah subhanahu wata’ala dan memohon pertolongan kepada-Nya. Sesungguhnya seorang hamba itu tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun tanpa dari-Nya.

Apa yang Allah subhanahu wata’ala kehendaki untuk terjadi, maka pasti
akan terjadi. Dan apa yang Allah subhanahu wata’ala kehendaki untuk
tidak terjadi, maka pasti tidak akan terjadi. Barangsiapa lalai dan teledor terhadap salah satu kewajibannya, maka dia pantas mendapatkan hukuman di dunia dan di akhirat. Hal seperti itu baik ditinjau dari sisi syari'at Islam maupun secara hukum alam.

Yusuf Bin Absath rahimahullah berkata,
“Seseorang menuturkan, “Berbuatlah seperti amalan yang dilakukan oleh seseorang, yang mana dia tidak akan selamat tanpanya. Dan tawakallah seperti seseorang yang tidak ditimpa sesuatu, kecuali yang
sudah dituliskan baginya.”

2. Amal perbuatan yang Allah subhanahu wata’ala jadikan terjadinya hukum sebab akibat. Allah subhanahu wata’ala perintahkan hamba-hamba-Nya untuk tidak mengabaikan perintah-Nya tersebut, seperti: diperintahkan makan ketika lapar, minum ketika dahaga,
berteduh ketika terik matahari, menghangatkan badan ketika kedinginan dan lain sebagainya. Semua perintah itu wajib dilaksanakan, barangsiapa yang mengabaikannya, dia akan tertimpa marabahaya, sedangkan dia mampu untuk melakukan hal itu- maka orang seperti
ini pantas mendapatkan hukuman.

3. Amal perbuatan yang Allah subhanahu wata’ala jadikan terjadinya hukum sebab akibat pada kebanyakan dan pada umumnya, kadang-kadang bisa terjadi sesuatu di luar itu, bagi apa saja yang Allah subhanahu wata’ala kehendaki. Misalnya obat-obatan.

Para ulama berbeda pendapat tentang seorang yang tertimpa penyakit, manakah yang lebih utama baginya, apakah dia hanya bertawakal saja kepada Allah subhanahu wata’ala secara totalitas (tanpa berobat), ataukah dia berobat, atau dibiarkan saja. Ada dua
pendapat yang masyur dalam masalah ini, menurut Imam Ahmad rahimahullah: bagi mereka yang mampu untuk bertawakal saja, maka itu adalah lebih utama, berdasarkan sabda Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Ada 70 ribu orang dari ummatku ini yang akan masuk surga tanpa dihisab. Lalu beliau berkata lagi: mereka adalah orang-orang yang tidak percaya masalah "tathayyur" (kesialan), tidak minta diruqyah, tidak melakukan pengobatan dengan "key" (berobat dengan besi panas yang ditempelkan ke tubuh), dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka". (HR. Muttafaqun 'Alaihi)

Sementara pendapat para ulama yang mengatakan: bahwa seseorang yang sakit itu harus berobat, didasarkan kepada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang senantiasa berobat tatkala sakit. Sedangkan tentang hadits di atas mereka pahami; bahwa ruqyah yang dimaksud dalam hadits "mereka tidak minta diruqyah" adalah ruqyah yang makruh, yaitu ruqyah yang mendekati kesyirikan. Alasannya menurut mereka: bahwa ruqyah yang disebutkan dalam hadits di atas
disebutkan secara bersamaan dengan key dan tathayyur, yang kedua-duanya adalah dimakruhkan (dilarang karena tidak disukai).

Mujahid, Ikrimah, An-Nakha`iy rahimahumullahdan tidak sedikit dari
kalangan ulama salaf bertutur,
“Rukhshah (dispensasi/keringanan) untuk tidak berikhtiar sama sekali hanya diperbolehkan bagi orang-orang yang hatinya benar-benar sudah terputus dari makhluk.”

Ishak Bin Rahawaih rahimahullah ditanya:
“Bolehkah seseorang masuk ke medan pertempuran tanpa bekal?” Beliau menjawab, “Jika orang itu sekaliber Abdullah Bin Jubeir maka
diperbolehkan. Jika tidak maka jangan sekali-kali melakukannya!”

Syaikh Hamd Bin Abdullah Ad-Dausary dalam buku “Ash-Shihhah Wa Al-Maradh” jika seseorang itu meninggalkan pengobatan karena kuatnya keimanan dan tawakalnya kepada Allah subhanahu wata’ala, bahwa Dia adalah Zat yang mendatangkan manfaat dan mudarat dan
Dia berkuasa atas segala sesuatu, maka sikap yang demikian "tidaklah
terlarang". Dia tidak boleh dipaksa untuk berobat.

Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, tatkala terkena suatu penyakit, ditanyakan kepadanya,
“Mengapa engkau tidak pergi berobat ke dokter?”

Dia menjawab:
“Dokter (yang beliau maksud adalah Allah) sudah melihat keadaanku”

Para shahabatnya bertanya,
“Apa yang dikatakan oleh Dokter itu kepadamu?”

Ia menjawab,
“Sesungguhnya Aku (Allah) Maha Berbuat apa yang Aku kehendaki.”

Oleh karena itu, wajib bagi kita berwasiat kepada diri kita dan kepada
orang-orang yang sedang sakit agar bertawakal kepada Allah subhanahuwata’ala dan menggantungkan hati kita kepadaNya. Sehingga kita akan mendapatkan kesehatan, keselamatan, dan balasan pahala di dunia dan di akhirat. Amin..
(Isnain Azhar, Lc)

Read More/Selengkapnya...

41 KEISTIMEWAAN WANITA

1. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda: "Ibu lebih penyayang daripada bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."

2. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang lelaki yang soleh.

3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis karena takut akan Allah SWT dan orang yang takut akan Allah SWT maka akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

4. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada
anak lelaki. Maka barang siapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail AS.

5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya maka akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW) di dalam syurga.

6. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga.

7. Dari Aisyah ra, "Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak- anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.

8. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

9. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

11. Wanita yang taat akan suaminya, maka semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).

12. Aisyah ra berkata, "Aku bertanya
kepada Rasulullah SAW, siapakah yang
lebih besar haknya terhadap wanita?
Jawab baginda, "Suaminya."
"Siapa pula berhak terhadap lelaki?"
Jawab Rasulullah SAW, "Ibunya."

13. Perempuan apabila sembahyang lima
waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara
kehormatannya serta taat akan suaminya,
masuklah dia dari pintu syurga mana
saja yang dia kehendaki.

14. Tiap perempuan yang menolong
suaminya dalam urusan agama, maka Allah
SWT memasukkan dia ke dalam syurga
lebih dahulu daripada suaminya (10000
tahun).

15. Apabila seseorang perempuan
mengandung janin dalam rahimnya, maka
beristighfarlah para malaikat untuknya.
Allah SWT mencatatkan baginya setiap
hari dengan 1000 kebaikan dan
menghapuskan darinya 1000 kejahatan.

16. Apabila seseorang perempuan mulai
sakit hendak bersalin, maka Allah SWT
mencatatkan baginya pahala orang yang
berjihad pada jalan-Nya.

17. Apabila seseorang perempuan
melahirkan anak, keluarlah dia dari
dosa-dosa seperti keadaan ibunya pada
saat melahirkannya.

18. Apabila telah lahir (anak) lalu
disusui, maka bagi ibu itu setiap satu
tegukan dari susunya diberi satu
kebajikan.

19. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur
dan memelihara anaknya yang sakit, maka
Allah SWT memberinya pahala seperti
memerdekakan 70 orang hamba dengan
ikhlas untuk membela agama-Nya.

20. Seorang wanita solehah adalah lebih
baik daripada 70 orang wali.

21. Seorang wanita yang jahat adalah
lebih buruk dari pada 1000 lelaki yang
jahat.

22. 2 rakaat shalat dari wanita yang
hamil adalah lebih baik daripada 80
rakaat shalat wanita yang tidak hamil.

23. Wanita yang memberi minum susu
(susu ASI) kepada anaknya maka akan
dapat satu pahala dari pada tiap-tiap
titik susu yang diberikannya.

24. Wanita yang melayani dengan baik
suami yang pulang ke rumah dalam
keadaan letih maka akan mendapat pahala
jihad.

25. Wanita yang melihat suaminya dengan
kasih sayang dan suami yang melihat
isterinya dengan kasih sayang maka akan
dipandang Allah dengan penuh rahmat.

26. Wanita yang mendorong suaminya
keluar dan berjuang ke jalan Allah dan
kemudian menjaga adab rumah tangganya
akan masuk syurga 500 tahun lebih awal
daripada suaminya, akan menjadi ketua
70000 malaikat dan bidadari. Dan wanita
itu akan dimandikan di dalam syurga,
dan menunggu suaminya dengan menunggang
kuda yang dibuat dari yakut.

27. Wanita yang tidak cukup tidur pada
malam hari karena menjaga anak yang
sakit maka akan diampunkan oleh Allah
seluruh dosanya. Dan bila dia menghibur
hati anaknya, Allah akan memberi 12
tahun pahala ibadah.

28. Wanita yang memerah susu binatang
dengan "bismillah" maka akan didoakan
oleh binatang itu dengan doa
keberkahan.

29. Wanita yang menguli tepung gandum
dengan "bismillah" maka Allah akan
berkahkan rezekinya.

30. Wanita yang menyapu lantai dengan
berdzikir maka akan mendapat pahala
seperti meyapu lantai di baitullah.

31. Wanita yang hamil akan dapat pahala
berpuasa pada siang hari.

32. Wanita yang hamil akan dapat pahala
beribadah pada malam hari.

33. Wanita yang bersalin akan mendapat
pahala 70 tahun shalat dan puasa dan
setiap kesakitan pada satu uratnya maka
Allah mengaruniakan satu pahala haji.

34. Sekiranya wanita mati dalam masa 40
hari selepas bersalin, maka dia akan
dianggap sebagai mati syahid.

35. Jika wanita melayani suami tanpa
khianat maka akan mendapat pahala 12
tahun shalat.

36. Jika wanita menyusui anaknya sampai
cukup waktunya (2½ thn), maka malaikat-
malaikat dilangit akan khabarkan berita
bahwa syurga wajib baginya.

37. Jika wanita memberi susu (susu ASI)
kepada anaknya yang menangis, maka
Allah akan memberi pahala satu tahun
shalat dan puasa.

38. Jika wanita memijit suami tanpa
disuruh maka akan mendapat pahala 7
tola emas dan jika wanita memijit suami
bila disuruh maka akan mendapat pahala
7 tola perak.

39. Wanita yang meninggal dunia dengan
keridhaan suaminya maka akan memasuki
syurga.

40. Jika suami mengajarkan isterinya
satu masalah ibadah, maka akan mendapat
pahala 80 tahun ibadah.

41. Semua orang akan dipanggil untuk
melihat wajah Allah di akhirat. Tetapi
Allah akan datang sendiri kepada wanita
yang menutupi auratnya, yaitu memakai
jilbab di dunia ini dengan istiqamah.
Read More/Selengkapnya...

Kamis, 17 Februari 2011

BELAJAR ILMU LIDAH

Lidah, benda sederhana yang merupakan bagian tubuh kita sebagai karunia Allah ini, ternyata menyimpan banyak kegunaan dan resiko. Dia bisa membawa kebaikan dan atau malah sebaliknya menjerumuskan seseorang, bahkan sejauh jauhnya. Susunan alfabet yang sederhana dari sebuah kata yang dihasilkan lidah kita, memiliki daya pengaruh yang bisa berdampak negatif jika tidak dirangkai secara bijaksana.

Seni mendidik lidah, benar benar memberikan efek luar biasa, salah satunya dalam kehidupan berumah tangga. Keharmonisan dan kesejukan suasana didalamnya ada kaitannya erat dengan hal yang bernama lidah. Kemampuan pasangan menghadirkan kata kata yang menyejukkan dan meneduhkan akan tentu saja membawa kedamaian didalam rumah. Dan sebaliknya, kealpaan kita menjaga dan menahan lisan dari mengeluarkan kata kata yang menyakitkan akan membawa dampak yang sangat tidak ringan. Mungkin diawalnya tidaklah terlalu terasa, namun seiring dengan waktu, jika kebiasaan buruk ini tetap di "jaga" maka bom waktu itu akan setiap saat meledak dan menghancurkan rumah tangga.

Siapa suami yang tidak ingin disuguhi kata kata yang halus dan penuh pengertian dari para istri istri mereka. Walaupun tidak ada makanan yang terhidang, walaupun kehidupan tidak selalulah berjalan sesuai dengan impian dan keinginan, namun kemampuan istri mendidik lidah mereka dengan baik, akan membawa semangat bagi para suami untuk lebih memberikan yang terbaik yang mereka mampu demi keluarga.

Pun demikian dengan para istri. siapapun dan dimanapun istri, tidak akan pernah berharap seorang suami yang kasar yang selalu menyakiti dan meremehkan mereka melalui kata katanya.

Kata kata yang baik yang terucap dari mulut kita dan kita ucapkan berulang-ulang, akan menyatu dengan diri kita. Apabila kata sudah menyatu dengan pikiran dan hati, maka hal itu akan memunculkan keajaiban-keajaiban. Tapi semua ini hanya berlaku bagi yang mengucapkan dengan sepenuh hati demi membahagiakan dan mendamaikan pasangan kita.

Poros dari semua kejadian ini tentu fatwa dari hati manusia tersebut, Karena ibarat teko, dia hanya akan menguarkan isi asli didalamnya. Oleh karena itu, menjaga hati, tidaklah kalah penting dari semua itu. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan memelihara diri. Jika hati kita akan terbiasa untuk memelihara diri dari godaan-godaan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat, maka sebenarnya kata-kata yang kita ungkapkan
memiliki makna yang akan masuk ke dalam pikiran kita. Pikiran akan memberikan gambaran atas kata yang kita ucapkan. Ketika kita mengucapkan kalimat yang baik dan penuh kasih,maka lambat laun kita pun akan tertuntun untuk menjadi pribadi yang mengasihi. Dan jika hal itu selalu kita jaga untuk terus menerus kita lakukan, niscaya kebahagiaan dan kedamaian akan selalu menghiasi rumah tangga kita.

syahidah)
sumber : www.voa-islam.com

Read More/Selengkapnya...

Rabu, 19 Januari 2011

Hakikat Syukur

Syukur merupakan akhlak ketuhanan dan termasuk sebahagian dari maqom tertinggi seorang salik, pakaian orang-orang yang berma'rifat dan hiasan orang-orang yang didekatkan dan disampaikan ke pangkuan Allah SWT. Allah SWT berfirman: "Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengam­puni kamu. Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun" [Q.S. At Taghobun: 17].

Anak cucu Adam sejak awal pertumbuhan, awal terciptanya dan keluar dari rahim ibu mereka mempunyai gelar dan ditandai dengan kebodohan dan tidak berilmu. Allah SWT berfirman: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun." [QS. An Nahl : 78]. Lalu Allah SWT menganugerahi keistimewaan kepada sebahagian mereka dengan keistimewaan bantuan dan pertolongan-Nya. Allah SWT memilih mereka sebagai orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan orang-orang yang menjadi kekasih-Nya, dimana Allah SWT menjadikan semua sebab dan perantara untuk menghasilkan Ilmu tersebut. Allah SWT berfirman: "Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." [QS. An Nahl: 78]. Lalu Allah SWT menyatakan penyandaran kepada anak cucu Adam dan menetapkan derajat yang tinggi, dekat dan sampai di sisi-Nya dengan adanya syukur kepada-Nya. Allah SWT berfirman: "Agar kamu bersyukur." [QS. An Nahl: 78].

Marilah kita melihat, mempelajari dan memikirkan perilaku Baginda Habibillah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau SAW melakukan solat sehingga kedua kaki mulia beliau bengkak agar menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur. Beliau SAW ditanya: "Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni segala dosamu yang telah lewat dan yang akan datang ?" Beliau SAW menjawab: "Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur” [H.R. Bukhori-Muslim].

Keadaan seorang hamba adakalanya bersyukur, diam atau mengadu. Jika ia bersyukur maka ia adalah asy syaakir (orang yang bersyukur), jika diam maka ia adalah ash shobir (orang yang bersabar). Dan jika ia mengadu kepada selain Allah, maka ia adalah asy syaaki (orang yang mengadu kepada selain-Nya). Merasa bodoh, hina, nista, rendah diri, merasa butuh, tercepit dan mendekatkan diri (Jawa: kepepet dan mepet) kepada Allah SWT dalam segala hal adalah merupakan suatu keluhuran dan kemuliaan, sedangkan mengadu kepada selain Allah SWT adalah merupakan kehinaan dan kenistaan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu, maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan." [Q.S. Al Ankabut: 17 ].

Diriwayatkan dari Sayyidina Anas RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada suatu nikmat, meskipun masanya sudah lewat, dimana seorang hamba memperbaharui syukur atas nikmat tersebut, kecuali Allah SWT akan memperbaharui pahala untuknya. Dan tidak ada suatu musibah, meskipun masanya sudah lewat, di mana seorang hamba memperbaharui istirja' (membaca innaa lillaaHhi wa innaa ilaiHhi raaji'un), kecuali Allah SWT akan memperbaharui pahala untuknya. Mensyukuri atas nikmat akan meringankan beban yang berat, dan bersabar atas kesusahan dan kesulitan akan memelihara, menjaga dan mengumpulkan buah yang akan dipetik."[1]

Menurut bahasa, asal kata syukur dipakai dalam ungkapan orang arab: "daabatun syakuur", yakni ketika binatang ternak kelihatan gemuk karena makanan yang diberikan padanya. Imam Al Jauhari RA berkata: "Binatang ternak disebut asy syakur jika ia mencukupi dengan makanan yang sedikit." Semakna dengan ini, ungkapan seseorang: "SyukruHhu ta'ala" maksudnya bahwa Allah memberikan pahala yang banyak atas amal yang sangat sedikit." Oleh karena itu, syukur menurut bahasa adalah tambahan. Dalam bahasa arab dikatakan: "Syakarat Ad Dabbah, tasykuru, syukran", maksudnya binatang ternak kelihatan gemuk karena makanan yang diberikan. Dalam bahasa, syukur diterangkan sebagai perbuatan yang timbul akibat dorongan rasa mengagungkan Allah Dzat Yang Maha Pemberi nikmat, ditinjau dari segi bahwa Allah telah memberikan nikmat kepada orang yang bersyukur dan kepada orang lain.

Dalam pengertian istilah, syukur adalah mendayagunakan semua kenikmatan yang dianugerahkan kepada seorang hamba untuk tujuan apa ia diciptakan, yakni untuk ibadah, khidmah atau ma'rifat. Hakikat syukur menurut Ulama Muhaqiqun adalah mengakui kenikmatan yang dianugerahkan Allah Dzat Yang Maha Pemberi nikmat, disertai dengan rasa lemah, bodoh, hina dan nista serta rendah diri. Pengertian ini sebenarnya merupakan penyebab syukur, bukan hakikat dari pada syukur.

Berdasarkan pengertian ini Allah SWT boleh disifati dengan Asy Syakur secara majaz (kiasan) bukan secara hakiki, sebab rasa lemah, bodoh, hina dan nista serta rendah diri itu mustahil bagi Allah. Oleh karenanya, kata syakur yang disandarkan pada Allah mempunyai pengertian bahwa Allah SWT membalas hamba-hamba-Nya, dan memberi pahala atas syukur mereka, sehingga balasan syukur itu dinamakan syukran. Allah SWT berfirman: "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema'afkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dlalim." [QS. Asy Syura: 40].

Adapun syukur diertikan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pemberi pahala kepada hamba-hamba-Nya yang ta'at dan soleh, sebagaimana yang dikatakan bahwa syukur adalah memuji kepada Dzat yang berbuat baik dengan menuturkan kebaikan-kebaikan-Nya, maka boleh menyandarkan kata syakur kepada Allah secara hakiki.

Dari pemaparan di atas, tidak ada kemusykilan lagi, bahwa Allah SWT memuji hamba-hamba-Nya yang ta'at dan soleh dengan menyebutkan ketaatan mereka, dan ini juga termasuk kebaikan yang dilakukan oleh Allah. Seorang hamba juga dapat disebut syakur, karena memuja dan memuji Allah dengan menyebutkan nikmat-nikmat-Nya, dan hal ini juga termasuk bentuk perbuatan baik yang agung. Maksudnya, bahwa kebaikan seorang hamba kepada Tuhannya adalah berbakti kepada Allah SWT, sedangkan kebaikan Allah Yang Maha Haq kepada hamba-Nya adalah memberi kenikmatan berupa pertolo­ngan untuk berbuat syukur kepada-Nya. Syukur seorang hamba; intipati yang utama adalah mengucapkan dengan lisan dan mengakui dengan hati atas nikmat-nikmat yang dianugerah­kan oleh Allah, disertai dengan sikap tenang dan teduhnya anggota badan.

Ditinjau dari intipati syukur dibahagi menjadi tiga:

1. Syukur dengan lisan, iaitu pengakuan seorang hamba atas nikmat yang disertai rasa tenang, teduh, merasa bodoh, hina dan nista.

2. Syukur dengan badan dan anggota badan, iaitu pengabdian seorang hamba dengan memenuhi, mengabdi dan berkhidmah kepada Allah SWT.

3. Syukur dengan hati, yaitu bersimpuhnya seorang hamba atas dasar kemuliaan, keindahan, kebesaran, keagungan dan kesempurna­an Allah SWT, dengan selalu menjaga kemuliaan-Nya.

Syukur dengan lisan hanya sekedar syukur secara bahasa saja. Syukur dengan anggota badan merupakan syukur secara bahasa dan istilah, dengan memandang cakupannya pada anggota lahir dan anggota bathin. Sedangkan syukur dengan hati adalah dengan bersimpuhnya seorang hamba atas dasar rasa menyaksikan kemulia­an, keindahan, kebesaran, keagungan dan kesempurnaan Allah SWT. Yakni, hatinya selalu menghadirkan dan melihat bahwa setiap anugerah dan kemuliaan itu datangnya dari Allah semata. Syaratnya adalah adanya kekuatan roja' (harapan) akan diterima di sisi Allah, yang disertai dengan selalu menjaga (aturan Allah) dan menyaksikan kemuliaan, keindahan, kebesaran, keagungan dan kesempurnaan Allah SWT, serta melaksanakan hakikat mengikuti Baginda Habibillah Rasulullah Muhammad SAW dengan penuh tanggung jawab dan tanpa adanya keinginan untuk diberi atau tidak. Sayyiduna Asy Syaikh Khoirun Nassaj RA berkata: "Harta warisan amal-amalmu adalah sesuatu yang layak pada semua perbua­tan­mu. Oleh kerana itu, carilah harta warisan anugerah dan kemuliaan-Nya, kerana hal itu jauh lebih utama bagimu."

Menurut sebahagian Ulama, syukur yang disandarkan pada maqom-maqom semua orang yang soleh itu ada tiga:

1. Syukur orang-orang alim, yaitu mensyukuri dengan lisan mereka, sebab tidak ada ilmu sedikitpun di sisi mereka kecuali harus disyukuri dengan lisan.

2. Syukur yang menjadi sifat orang-orang yang ahli ibadah, yaitu dengan perbuatan dan ketaatan mereka.

3. Syukur Ahli Ma'rifat, yaitu dengan istiqomah dalam bersyukur pada semua ahwal mereka, mereka pindah dari amal-amal anggota lahir menuju pada perilaku-perilaku hati.

Dari uraian ini, jika kita mengetahui makna orang yang soleh, yaitu orang yang menegakkan hak-hak Allah Yang Maha Haq dan hak-hak makhluk, nescaya kita akan faham penjelasan di atas.



[Disarikan dari Al Muntakhobat karya Hadhrotus Syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqi RA].
Read More/Selengkapnya...