Kamis, 07 April 2011

BAHAYA MAKSIAT

Sudah selayaknya jika kita bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat iman dan ketaatan kepada-Nya. Kita yang mengaku beriman kepada Allah SWT dengan hati dan lisan, tapi sering dengan mudahnya kita meninggalkan perintah-Nya dan melakukan perbuatan maksiat bahkan kadang kita sering merencanakan bentuk kemaksiatan yang telah dianggap suatu hal yang wajar. Banyak Ulama mengatakan bahwa, maksiat itu sungguh lebih berbahaya dari suatu penyakit. Karena kemaksiatan dampaknya sngat buruk bagi moralitas diri dan masyarakat suatu bangsa yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah SWT baik di dunia maupun akhirat yang berupa keburukan-keburukan, azab dan siksa yang pedih. Sedang penyakit, jika kita mau sedikit bersabar maka Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kita. Sebagaimana Nabi SAW pernah bersabda: Dari Ummul Ala', seorang wanita yang telah berbai'at dengan Rasulullah SAW. masuk Islam, ia berkata: "Saya dipanggil Rasulullah SAW pada waktu sakit." Beliau bersabda: "Wahai Ummul Ala', bergembiralah engkau, sebab Allah telah menghapus kesalahan-kesalahan orang Muslim dengan penyakit yang dideritanya, bagaikan api menghilangkan karat-karat besi dan perak." (HR. Abu Daud)

Hidup di zaman yang semua bidang kehidupan telah mencapai kemajuan yang sangat pesat. Tak terkecuali bentuk kemaksiatan pun mengalami perkembangan yang sama. Bahkan kita seperti tak mampu mengelak dari maksiat yang tersaji di berbagai media. Mungkin tiap hari kita telah melakukan kemaksiatan yang tak terhitung jumlahnya baik yang kita sadari atau tidak, baik maksiat hati maupun maksiat anggota badan. Jika kita telah merasa demikian, maka kita pun harus selalu memperhatikan setiap perilaku kita. Sekecil pun kita harus menahan rencana atau terbersit-nya niat dalam hati untuk berlaku maksiat. Jika orang arif bilang bahwa, ibadahnya orang awam adalah maksiat-nya orang khusus, maka lihatlah siapa diri kita? Jadi buat kita yang tergolong orang awam, maka tidaklah pantas jika kita menambah perilaku yang sudah jelas-jelas maksiat.

Kita yang telah dikaruniai oleh Allah nikmat iman dan ketaatan, maka hendaklah kita syukuri nikmat itu dengan selalu menjaga iman dengan ketaatan kepada Allah dan berusaha membersihkan diri dari laku maksiat.

Diantara bahaya yang ditimbulkan oleh laku maksiat adalah:

* Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam diri kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Karena itu, tatkala imam syafi’i duduk di hadapan Imam Malik untuk belajar, Imam Malik sangat kagum akan kecerdasan dan daya hafalnya hingga beliau bertutur, “Aku melihat Allah telah menyiratkan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat. “Imam Syafi’i bertutur:

aku mengadu tentang kelemahan hafalanku yang buruk
Dia memberiku bimbingan untuk meninggalkan kemaksiatan
seraya berkata, “Ketahuilah, ilmu adalah karunia.
Dan karunia Allah tidak diberikan kepada si pelaku dosa dan kemaksiatan.

* Maksiat Menghalangi Rezeki

Di dalam musnad Ahmad disebutkan “Seorang hamba dicegah dari rezki akibat dosa yang diperbuatnya”

Jika ketakwaan merupakan penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkannya dapat menimbulkan kekafiran. Tidak ada satupun yang dapat memudahkan rezeki Allah kecuali dengan meninggalkan maksiat.

* Maksiat Menimbulkan Jarak Dengan Allah

Jauhnya atau sunyinya hati seorang manusia dari cahaya Allah disebabkan oleh perbuatan maksiatnya. Tidak ada perbuatan meninggalkan dosa yang dapat menghilangkan kesunyian tersebut kecuali berwaspada dari perbuatan maksiat. Seseorang yang berakal tentu akan dengan mudah meninggalkan kesunyian tersebut. Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang yang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif itu berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa , maka tinggalkanlah. Dalam hati, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan akibat dosa di atas dosa”.

* Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain

Kemaksiatan dapat menjauhkan seorang manusia dengan manusia yang lain, lebih-lebih dengan golongan yang baik. Semakin kuat tekanan perasaan tersebut, semakin jauhlah dia dari mereka dan semakin terhalangilah berbagai manfaat dari mereka; akhirnya dia semakin mendekati setan. Kesunyian dan kegersangan itu semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dia dengan istri dan anak-anaknya, juga antara dia dengan nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, “sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang dan istriku”

* Maksiat Menyulitkan Urusan

Seorang pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam mengatasi segala masalahnya sebagaimana ketakwaan yang dapat memudahkan segala urusan. Karenanya, sungguh mengherankan jika seorang hamba sulit menghampiri pintu-pintu kebenaran sementara penyebabnya tidak ia ketahui.

* Maksiat Menggelapkan Hati

Pelaku maksiat akan senantiasa mengalami kegelapan hati seperti gelapnya malam. Ketaatan itu adalah cahaya sedangkan kemaksiatan adalah gelap gulita. Ibnu Abbas r.a berkata:

“Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan pencerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kelapangan rezeki, kekuatan badan, dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengandung ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki, dan kebencian makhluk”.

* Maksiat Melemahkan Hati dan Badan

Jika kemaksiatan itu dianggap dapat melemahkan hati, itu sudah tidak diragukan lagi, bahkan kelemahan itu tidak akan lenyap sampai mati. Dan jika kemaksiatan dikatakan dapat melemahkan badan, itu karena kekuatan badan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat, kuatlah badannya. Sedangkan, bagi pelaku maksiat, walaupun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah jika kekuatan itu sedang ia butuhkan, sehingga kekuatan yang ada pada dirinya sering menipu dirinya sendiri.

* Maksiat Menghalangi Ketaatan

Dosa dan maksiat akan menghalangi si pelaku dari ketaatan sehingga ia akan memutuskan ketaatan yang lain, dan terputuslah jalan ketaatan selanjutnya. Begitulah seterusnya. Akhirnya, putuslah setiap ketaatan yang nilainya lebih baik daripada dunia dan seisinya.

* Maksiat Membuat Umur Terasa Pendek dan Menghapus Keberkahan

Jika kebajikan dikatakan dapat menambah umur, otomatislah, maksiat dapat mengurangi umur. Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Sementara itu, tak ada yang namanya hidup kecuali jika dihabiskan dengan ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikrullah, serta mementingkan keridhaan-Nya.

* Maksiat Menumbuhkan Maksiat Lain

Pada dasarnya manusia yang sudah terperangkap dalam kemaksiatan akan merasa sulit untuk keluar dan melepaskan diri darinya.

Diantara dampak negatif keburukan adalah menimbulkan keburukan yang lain. Sedangkan, pengaruh kebaikan adalah mendatangkan kebaikan berikutnya. Maka jika anda melakukan suatu kebaikan, kebaikan yang lainnya akan meminta untuk dilakukan, begitu seterusnya hingga anda memperoleh keuntungan yang berlipat ganda dan kebaikan yang tidak sedikit. Begitu juga halnya dengan keburukan. Dengan demikian ketaatan dan kemaksiatan merupakan sifat yang kokoh dan kuat serta menjadi kebiasaan yang teguh pada diri anda.

* Maksiat Mematikan Bisikan Hati Nurani

Inilah bahaya maksiat yang paling menakutkan karena kemaksiatan dapat menyebabkan putusnya secara perlahan-lahan keinginan untuk bertobat, hingga habislah sama sekali. Jika meninggal, setengahnya pun tak akan pernah dia bertobat kepada Allah. Justru dia datang dengan istighfar dan tobat gaya para orang munafik yang hanya di bibir sedangkan hatinya masih terus-menerus terjerat kemaksiatan yang masih tetap dijalaninya. Inilah penyakit yang paling berbahaya dan paling dekat dengan kebinasaan.

* Maksiat Menghilangkan Keburukan Maksiat Itu Sendiri

Jika kemaksiatan sudah menghilangkan anggapan kemaksiatan itu merupakan suatu keburukan, kemaksiatan akan menjadi adat kebiasaan sehari-hari yang menyebabkan pelakunya tidak memiliki rasa malu. Orang-orang fasik berpendapat bahwa hal itu merupakan puncak kebahagiaan dan kebanggan sehingga dengan bangganya dia berkata, “Hai Fulan, semalam aku telah berbuat anu….”. Orang seperti tiu tidak akan peduli dengan cemoohan orang lain. Dengan begitu, baginya jalan tobat sudah tertutup dan pintu-pintunya telah terkunci. Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw bersabda :

“Setiap umatku dimaafkan kecuali yang beraksiat terang-terangan. Diantara maksiat terang-terangan adalah seorang hamba yang dengan bangganya menceritakan perbuatan maksiatnya, padahal Allah telah menutupi nya. Dia berkata, “Hai Fulan, kemarin aku berbuat anu … anu …” Dengan begitu, sebenarnya dia telah mengoyak kehormatan dirinya sendiri, padahal Allah telah menutupinya semalm-malaman. (HR. Bukhari-Muslim)

* Maksiat Warisan Umat Yang Pernah Diadzab

Homoseksual adalah warisan kaum Luth a.s. Berbuat curang dengan mengurangi dan melebihkan takaran adalah peninggalan kaum Syuaib a.s. Sombong di muka bumi dengan menciptakan berbagai kerusakan merupakan warisan Fir’aun dan kaumnya. Takabur dan congkak merupakan warisan kaum Hud a.s. Jika begitu dapatlah dikatakan pelaku maksiat pada zaman sekarang adalah kaum yang memakai baju umat-umat terdahulu dari golongan musuh Allah

* Maksiat Menimbulkan Kehinaan

Imam Hasan Basri berkata, “Mereka hina dan rendah dalam pandangan Allah SWT sehingga mereka pun sangat mudah bermaksiat. Sekiranya dalam pandangan Allah seseorang telah hina, tidak ada seorang pun yang memuliakan-nya. Kalau pun diantara lingkungannya yang menghormati dia, itu mereka lakukan karena pamrih atau takut.

* Maksiat Memudahkan Perbuatan Dosa

Kondisi maksiat yang sudah seperti itu merupakan cir-ciri kehancuran karena manakala dosa itu dianggap kecil atau ringan oleh hamba, dalam pandangan Allah SWT, dosa itu menjadi besar.

* Maksiat Mewariskan Kehinadina-an

Kemaksiatan dapat melahirkan kehinadinaan karena kemuliaan itu hanya akan muncul akibat ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya ini:

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah lah kemuliaan itu” (QS. Faathir: 10)

Karena itu, hendaklah kemuliaan itu diraih melalui ketaatan kepada Allah

* Maksiat Merusak Akal

Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah sehingga akalnya hilang. Karena, sekiranya akalnya masih berjalan tentu akan mencegahnya dari kemaksiatan dan dia berada dalam genggaman dan kekuasaan Allah SWT. Sementara, malaikatnya menyaksikan. Nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu juga dengan nasihat keimanan. Orang yang luput dari kemaksiatan adalah orang yang terbaik dan di akhirta kelak dia akan memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan yang berlipat ganda. Maka, adakah orang yang memiliki akal sehat itu mau mendatang kemaksiatan yang penuh kehinadinaan?

* Maksiat Menutup Hati

Pada dasarnya kotoran hati timbul akibat kemaksiatan. Bertambahnya kemaksiatan menyebabkan kotoran semakin berkarat sehingga menjadi karakter yang mengalahkan peran jiwa. Hal seperti itu akan berakhir hanya kalau si pelaku mendapatkan hidayah. Kalau tidak, pelaku akan disetir kemaksiatan selamanya.

* Maksiat Dilaknat Rasulullah saw

Rasulullah saw telah melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah penunjuk jalan padahal penunjuk jalan itu sangat penting, melakukan homoseksual, menyerupai laki-laki bagi perempuan atau menyerupai perempuan bagi laki-laki, mengadakan praktek suap-menyuap dan sebagainya. Semakin besar maksiat yang dilakukan, semakin besar laknat beliau atas mereka. Seseorang yang melakukan hal-hal seperti di atas, berarti dia telah meridhai dirinya dilaknat Allah SWT, Rasulullah saw, dan malaikat.

* Maksiat Meremehkan Allah

Jika seseorang berlaku maksiat, disadari atau tidak rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati. Jika perasaan pengagungan kepada Allah masih ada dalam hatinya, itu dapat mencegah seseorang dari berlaku masksiat.

-------------------------------------------
sebagian materi didapat dari sumber:
http://istiqom4h.wordpress.com/2008/07/26/pengaruh-dan-bahaya-maksiat/
Read More/Selengkapnya...

MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, jawaban Sayyid Muhammad Al-Maliki

Berkumpulnya orang-orang memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw pertama kali dilaksanakan pada tahun 1187 M di Mesir, pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi (1138-1193 M). Dengan harapkan dapat memberikan semangat jihad dan pengaruh psikologis yang dasyat dalam diri umat Islam yang saat itu sangat dibutuhkan untuk membebaskan Palestina dari cengkraman pasukan salib dari negeri-negeri Kristen Eropa. Dengan dilaksanakan peringatan Mauli ini, Sultan Shalahuddin Al Ayyubi berhsil menggugah kembali semangat jihad umat Islam hingga berhasil pula usaha pembebasan Palestina dari pasukan salib.

Peringatan Maulid hingga kini makin marak saja dilaksanakan oleh umat Islam di kebanyakan negara-negara Islam, terutama di Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara semangat dan ghirah keislaman umat. Meski hampir 10 abad dilaksanakan, tapi masih ada kalangan yang menolaknya. Di antara mereka mengatakan bahwa, orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi menjadikannya sebagai hari raya ( 'Id ) yang syar'i, seperti 'Idul Fitri dan 'Idul Adha, padahal peringatan itu, menurut mereka, bukanlah suatu yang berasal dari ajaran Islam. Mereka juga mengatakan bahwa, acara peringatan Maulid Nabi adalah amalan bid'ah dan ungkapan-ungkapan dalam syair Maulid sarat mengandung kemusyrikan.

Menanggapi tuduhan-tuduhan mereka, ulama Ahlussunnah Waljama'ah, seperti Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki mengulas seputar Maulid Nabi sebagai jawaban atas tuduhan mereka. Beliau mengatakan sebagai berikut:

Hari Maulid Nabi Saw bukanlah 'id, dan kita tidak memandangnya sebagai 'Id, karena ia lebih besar, lebih agung dan lebih mulia dari 'Id. 'Idul Fitri dan 'Idul Adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedang peringatan Maulid Nabi Saw, mengingat beliau dan sirahnya, harus berlangsung terus, tidak terkait waktu dan tempat.

Hari kelahiran beliau lebih agung dari pada 'Id. Mengapa? Karena beliaulah yang membawa 'Id dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena beliau pula, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada beliau, tidak ada bi'tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzulul Qur'an (turunnya Al Qur'an), Isra' Mi'raj, hijrah, kemenangan dalam perang Badar, dan Fath Makkah (penaklukan Makkah), karena semua itu berhubungan dengan beliau dan dengan kelahiran beliau, yang merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan yang besar.

Sebelum mengemukakan dalil-dalil dibolehkannya peringatan Maulid, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan acara Maulid.

Pertama
Kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan kesempatan, ketika kita mendapatkan kegembiraan terlebih lagi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi'ul awal, dan pada hari kelahiran beliau, hari senin. Tidak layak bagi seorang yang berakal bertanya, "Mengapa kalian memperingatinya?" Karena, seolah-olah ia bertanya, "Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?" Apakah sah jika pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban. Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah menjawab dengan, "Saya memperingatinya karena saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya mencintainya karena saya seorang mukmin."

Kedua
Yang kita maksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orang-orang yang hadir, memuliakan orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan serta menggembirakan orang-orang yang mencintai beliau.

Ketiga
Kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan denan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syari'at secara jelas, sebagaimana shalat dan ibadah yang lain. Tidak demikian. Peringatan Maulid itu tidak seperti shalat, puasa dan ibadah. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita, terutama pada bulan Maulid.

Keempat
Berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga dan tidak boleh dilewatkan. Bahkan, para da'i dan ulama wajib memperingatkan umat tentang Nabi, baik akhlaknya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya maupun ibadahnya, di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala', bid'ah, keburukan dan fitnah.

Yang pertma merayakan Maulid Nabi SAW adalah Shahibul Mauid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa puasa di hari senin, beliau menjawab, "Itu kelahiranku." Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara'.

Dalil Dalil Maulid
Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pertama
Peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu.

Kedua
Beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.

Ketiga
Gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah Qur'an. Allah SWT berfirman: "katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'." (QS. Yunus: 58) Jadi, Allah menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmatNya, sedang Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al Qur'an, "Dan tidaklah Kami mungutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-An'am: 107)

Keempat
Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.

Kelima
Peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta'ala, "Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya." (SQ. AL-Ahzab; 56)
Apa saja yang mendorong orang melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara', berarti juga itu dituntut oleh syara'. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.

Keenam
Dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjiza-mukjizatnya, sirahnya dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.

Ketujuh
Peringatan Maulid merupakan ungkapan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifat yang sempurna dan akhlaknya yang utama.
Dahulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashida-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha kepada orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kepada beliau, yakni dengan menarik kecintaannya dan keridhaannya.

Kedelapan
Mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhashnya (kejadian-kejadian yang luar biasa, yang Allah berikan kepada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, baik fisik (tubuh) maupun ahlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan ahlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan kesempurnaan iman adalah dua hal yang dituntut syara'. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.

Kesembilan
Mengagungkan Nabi SAW itu disyar'iatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan dan rasa syukur yang paling nyata.

Kesepuluh
Dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari jum'at, disebutkan bahwa salah satu dianaranya adalah, "Pada hari itu Adam AS diciptakan," Hal itu menunjukkan dimuliakannya waktu ktika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari dilahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulia?

Kesebelas
Peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimi di seluruh negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara', berdasarkan kaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud, " Apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah".

Kedua belas
Dalam peringatan maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu dituntut oleh syara' dan terpuji.

Ketiga belas
Allah SWT berfirman, "Dan semua kisah-kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu." (QS.Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa, hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini pun kita butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tenteng beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.

Keempat belas
Tidak semua yang tidak pernah dilakukan oleh para salaf dan yang tidak ada di awal Islam berarti bid'ah yang mungkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib unuk ditentang, melainkan apa yang "baru" itu (yang belum dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalil-dalil syara'.

Kelima belas
Tidak semua bid'ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haram-lah pengumpulan Al Qur'an yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Qur'an. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat tarawih, padahal ia mengatakan, "Sebaik-baik bid'ah adalah ini." Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid'ah yang haram apabila semua bid'ah itu diharamkan.

Keenam belas
Peringatan Maulid Nabi meski tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid'ah hasanah (bid'ah yang baik), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara' dan kaidah-kaidah kulliyyah (umum).

Ketujuh belas
Semua yang tidak ada pada masa awal Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara'. Karena, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara' , itu pun dituntut oleh syara'.

Kedelapan belas
Imam Asy-Syafi'i mengatakan, "Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijma' atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid'ah yang sesat. Ada pun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu adalah terpuji".

Kesembilan belas
Setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar'i dan tidak dimaksud untuk menyalahi syari'at dan tidak pula mengandung suatu kemungkaran, itu termasuk ajaran agama.

Kedua puluh
Memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyari'atkan dalam Islam. Sebagaimana yang anda lihat, sebagian besar amaliyah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.

Kedua puluh satu
Semua yang disebut sebelumnya tentang dibolehkannya secara syari'at peringatan Maulid Nabi SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan mungkar yang tercela, yang wajib ditentang. Ada pun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai suatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai shahibul maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut.

------------------------------------------------------
oleh : musthaf
sumber bacaan: ALKISAH NO.06/10
Read More/Selengkapnya...

Rabu, 06 April 2011

ANTARA KHAUF DAN RAJA'

Khauf dan Rajaa'


Berjalan mendekatkan diri dan mencari keridloan Allah, dihadapan kita banyak dijumpai rintangan dan hambatan baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri kita, yang terang-terangan (yang disadari) maupun yang tersembunyi (tidak disadari). Untuk menghadapi itu semua maka kita harus mempunyai rasa takut terhadap amcaman azab Allah (Khauf) dan pengharapan terhadap rahmat Allah (Raja') serta memenuhi perimbangan antara khaf dan raja'.


ALASAN PENTINGNYA RASA KHAUF

Pertama.
Agar terhindar dari kemaksiatan. Sebab nafsu yang ada pada diri kita sangat cenderung melakukan perbuatan. Sebab nafsu yang ada pada diri kita sangat cenderung melakukan perbuatan jahat, dan selalu bermain mata dengan fitnah. Seperti tidak ada henti-hentinya nafsu ini mendorong dan menarik kita pada perbuatan demikian. Oleh karena itu kita harus mengancam dan membuat nafsu itu menjadi takut, dengan cara mencambuk dan mendera, baik berupa ucapan tindakan maupun pikiran. Sebagaimana yang dituturkan seorang shaleh, "Suatu ketika nafsuya mengajak berbuat maksiat, lalu ia keluar dan berguling- guling di atas pasir yang panas seraya berkata kepada nafsunya: "Rasakanlah! Neraka jahanam itu lebih panas dari pada apa yang anda rasakan ini. Paada malam hari engkau menjadi bangkai, sementara siang harinya menjadi pemalas."

Kedua.
Agar tidak ujub atau berbangga diri/sombong pada ketaatan dan amal shalehnya. Sebab jika sampai bersikap ujub, maka dapat menyebabkan celaka. Sekalipun kita sedang berbuat ketaatan, kita harus selalu waspada terhadap nafsu. Nafsu harus tetap dipaksa dengan dicela dan dihinakan tentang apa yang ada padanya, berupa kejahatannya, dosa-dosa dan berbagai macam bahayanya.

Diceritakan dari Hasan Bashri, bahwa ia berkata: "Salah seprang diantara kita tidak aka aman, setelah melakukan dosa, sementara pintu ampunan telah ditutup, tanpa bisa memasukinya. sehingga salan seorang dari kita yang berbuat maksiat itu, brarti berbuat tidak pada tempatnya."

Abdullah bin Mubarak ppernah mencela nafsunya sendiri dengan berkata: "Ucapan anda seperti ucapan orang zuhud, tapi perbuatan anda seperti perbuatan orang munafik. Sementara anda ingin masuk surga. Jauh amat, mana mungkin? Surga itu ada orang-orangnya sendiri. Orang-orang yang masuk surga itu tidak beramal seperti yang anda lakukan."

Ucapan peringatan seperti itu sebaiknya sering diulang-ulang, untuk mengingatkan diri sendiri, agar tidak bersikap ujub dalam melakukan ketaatan dan agar tidak terjerumus pada kemaksiatan.

ALASAN PENTINGNYA MEMILIKI RASA RAJA'

Pertama.
Agar bersemangat dalam melakukan ketaatan. Sebab berbuat baik itu beradan setan senantiasa mencegahnya, hawa nafsu tah henti-hentinya mengajak paa selain yang baik. Seperti keadaan kebanyakan orang yang lalai, mereka mempunyai watak menuruti hawa nafsu secara terang-terangan.Sedang pahala yang dicari dengan ketaatan itu tidak kelihatan mata dan bersifat gaib. Sementara jalan memperoleh pahala itu begitu jauh.
Apabila demikian keadaannya, tentu nafsu tidak bersemangat dalam mengerjakan kebaikan, tidak menyukai dan tidak pula mau bergerak guna melakukan kebaikan. Dalam menghadapi hal ini, harus dihadapi dengan raja' yang kuat, mengharap rahmat Allah dan kebaikan pahala-Nya.

Guru Imam Ghozali berkata: "Kesedihan itu dapat mencegah manusia dari makan. Khouf dapat mencegah orang berbuat dosa. Sedang raja' bisa menguatkan keinginan untuk melakukan ketaatan. Ingat mati dapat menjadikan orang bersikap zuhud dan tidak menganbil kelebihan harta duniawi yang tidak perlu.

Kedua.
Agar merasa ringan menanggung berbagai kesulitan dan kesusuhan.
Barang siapa telah mengetahui kebaikan akan sesuatu yang menjadi tujuan, tentu menjadi ringan untuk mengeluarkan apa yang perlu diberikan. Ketika orang benar-benar menyukai sesuatu, tetnu ia sanggup memikul beban beratnya dan tidak akan peduli apa yang akan ia hadapi dan berapapun ongkosnya. Jika seorang telah benar-benar mencintai orang lain, tentu ia dengan senang hati ikut menanggung cobaan orang yang ia cintai itu. Bahkan merasa senang dengan cobaan itu.
Coba lihat orang yang mengambil madu di sarang lebah, ia tidak mempedulikan sengatan lebah itu. karena ingat akan manisnya madu. Begitu pula orang-orang yang tekun beribadah, mereka bersungguh-sungguh apabila ia teringat surga yang indah dengan berbagai kenikmatannya, kecantikan bidadari-bidadarinya, kemegahan istananya, kelezatan makanan dan minumannya, keindahan pakaian dan keelokan perhiasannya dan semua apa yang disediakan Allah di dala surga. Mereka merasa ringan menanggung beban kepayahan dalam beribadah, walaupun tidak sempat merasakan kenikmatan dan kelezatan dunia.

Diceritakan, bahwa murid-murid Sufyan Ats-Tsauri berkata kepadanya, mengenai ketakwaan dan kesunguhan ibadahnya serta kesahajaan keadaannya yang selama ini mereka liat. Mereka berkata: "Wahai Ustadz, seandainya Anda mau mengurangi kepayahan yang demikian itu, tentu Anda tetap dapat mencapai maksud Anda, insya Allah,"
Sufyan menjawab, "Bagaimana aku tidak bersungguh-sungguh, sebab aku pernahmendengar bahwa ahli surga itu berada pada tempat mereka, lalu datanglah nur yang menerangi delapan surga. Mereka menyangka bahwa nur itu datang dari sisi Allah, maka mereka pun menyungkurkan wajahnyabersujud. Lalu ada panggilan dari arah Allah: " Wahai penduduk surga! Anggkatlah kepala Anda! Apa yang Anda sangka itu tidak lain hanyalah nur seorang bidadari yang tersenyum didepan suaminya."

Selanjutnya Sufyan mendendangkan bait-bait syairnya:

"Tidak akan emerasakan keberatan menghadapi bahaya
orang yang surga Firdaus sebagai tempatnya.
Kamu dapat melihatnya berjalan dalam keadaan menanggung
sedih dan gelisah khawatir dan takut,
menuju ke masjid-masjid
berjalan dengan pakaian yang sederhana dan lusuh
Hai nafsu!
Kamu pasti tidak akan kuat menahan jilatan nyala api
yang berkobar-kobar
sudah saatnya kau menghadap, setelah lama berpaling."

Saya katakan, jadi pokok urusan ibadah itu berkisar pada dua ha, yaitu melakukan taat kepada Allah dan menghentikan laku maksiat. Keduanya tidak akan berjalan dengan baik dan sempurna, sementara nafsu senantiasa mengajak pada kejahatan.

Nafsu semacam itu harus diatasi dengan membuat senang kepada pahala Allah dan menakut-nakuti dengan siksa-Nya, berharap akan janji Allah, sekali gus menakut-nakuti dengan siksa azab-Nya. Karena binatang binal saja membutuhkan orang yang menuntun dan menggiring. Ketika terjerumus ke jurang, kadang-kadag perlu dicambuk dengan cemeti, disamping diperlihatkan gandum (makanan kesukaannya) kepada binatang itu, agar ia segera bangkit dan selamat dari jurang itu.

Begitu pula dengannafsu, ia seperti binatanag binal yang terperosokke dalam jurang kecintaan dunia. Maka harus dicambuk dengan ditakut-takuti siksa dan dihalang-halangi, disamping diberi harapan dengan perkara yang menyenangkan dan dengan menuntunya. Demikian pula seorang hamba yang hendak ibadah dan riyadhoh, harus mendidik nafsunya dengan dua hal tersebut, yaitu dengan Raja' dan khauf. Jika tidak, maka nafsu tidak akan mau diajak ibadah.Dalam kontek inilah banyak ayat-ayat Al Qur'an yang menyebut dua hal tersebut, mengenai janji da ancaman, janji dan pahala surga yang menyenangkan dan ancaman siksa yang menakutkan.
Penjelasan megenai janji pahaa yang menggiurkan membuat seseorang tidak sabar untuk segera meraihnya. Sementara mengenai ancaman siksa neraka yang mengerikan, membuat seorang tidak memiliki kesabaran untuk segera lari menjauhinya.

Demikian, Kita harus memiliki rasa takut pada azab Allah yang amat pedih (khauf), dan harapan akan janji pahala surga yang penuh kenikmatan (raja'), agar tujuan ibadah yang dimaksud dapat tercapai. Dan kita pun menjadi merasa ringan kemasyakatan dalam menjalani ibadah. Kepada Allah kita memohon petunjuk, dengan anugrah dan rahmat-Nya.
Read More/Selengkapnya...

Senin, 21 Maret 2011

ISTIMEWANYA WANITA

Banyak wanita yang bilang bahwa susah menjadi wanita, lihat saja aturan-aturan dibawah ini :

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki.
2. Wanita perlu minta ijin dari suami apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit dari pada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada istrinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan istri.
8. Wanita kurang nyaman dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas.
9. dan lain-lain.

Tetapi… PERNAHKAH KITA LIHAT KENYATAANNYA ?

1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti itulah intan permata bandingannya dengan seorang wanita.

2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada Ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada Bapaknya ?

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah bahwa harta itu akan menjadi miliknya dan tidak perlu diserahkan kepada suami? Sementara suami apabila menerima warisan ia wajib juga menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anaknya ?

4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala mahluk, malaikat dan seluruh mahluk Allah dimuka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
Diakherat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu : Istrinya, Ibunya, Anak Perempuannya dan Saudara Perempuannya. Artinya , bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

5. Seorang Wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui pintu mana saja yang disukainya cukup dengan 4 Syarat saja, yaitu : Sholat 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, taat kepada Suaminya dan menjaga Kehormatannya.

6. Seorang lelaki wajib berjihad di jalan Allah, sementara bagi wanita jika taat kepada suami serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLAH SWT, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad di jalan Allah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH… ! demikian sayangnya ALLAH SWT kepada wanita…..

Yakinlah bahwa sebagai Zat yang Maha Pencipta sudah pasti ALLAH Maha Tahu akan segala yang diciptakan-Nya sehingga peraturan-Nya adalah yang terbaik bagi manusia.
Read More/Selengkapnya...